Random Post: Suasana Rekon Jardiknas
RSS .92| RSS 2.0| ATOM 0.3
  • Home
  • Album Foto
  • Jadwal Diklat PBJ
  • Jadwal Saya
  • Tentang Saya (1)
  • Tentang Saya (2)
  •  

    Sumpah PNS dan Loyalitas

    October 25th, 2017

    Demi Allah, saya bersumpah:

    bahwa saya, akan setia dan taat kepada Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta akan menjalankan segala peraturan perundang-undangan dengan selurus-lurusnya, demi dharma bakti saya kepada bangsa dan negara;
    bahwa saya dalam menjalankan tugas Jabatan, akan menjunjung etika Jabatan, bekerja dengan sebaik-baiknya, dan dengan penuh rasa tanggung jawab;
    bahwa saya, akan menjaga integritas, tidak menyalahgunakan kewenangan, serta menghindarkan diri dari perbuatan tercela.

    Kalimat-kalimat di atas adalah penggalan dari Sumpah Pelantikan dan Pengangkatan Jabatan untuk PNS atau ASN yang wajib dilakukan sebelum dilantik.

    Mari coba dibandingkan dengan berita ini:

    https://news.detik.com/berita/d-3698166/jadi-tersangka-kpk-anak-buah-walkot-batu-ini-bentuk-kesetiaan

    Disebutkan bahwa tindakan KKN yang dilakukan adalah bentuk “kesetiaan kepada pimpinan.”

    Sebagai seorang PNS apalagi menduduki suatu jabatan tertentu, yang bersangkutan tentu sudah disumpah minimal dua kali, yaitu saat pengangkatan sebagai PNS dan yang kedua saat diangkat sebagai Kepala Bagian (Kabag).

    Artinya seharusnya sudah paham mengenai kesetiaan dan loyalitas itu. Apakah setia dan loyal kepada atasan atau setia/loyal kepada bangsa dan negara.

    Atau ini hanya ketakutan akan kehilangan atau tidak memperoleh jabatan?

     

     

     


    Konsep Dasar Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

    August 17th, 2017


    Hati-Hati Menggunakan SPSE Versi 4

    August 14th, 2017

    Salah satu anjuran yang berkaitan dengan Pengadaan Barang/Jasa akhir-akhir ini adalah anjuran untuk melakukan migrasi dari Sistem Pengadaan Secara Elektronik (SPSE) Versi 3 menjadi SPSE Versi 4.

    Salah satu keunggulan SPSE Versi 4 dibandingkan dengan SPSE Versi 3 adalah pembuatan dokumen pemilihan tidak lagi dilakukan oleh Pokja ULP, melainkan langsung terintegrasi dalam sistem sehingga dapat mengurangi kesalahan-kesalahan yang sering terjadi dalam penyusunan Dokumen Pengadaan oleh Pokja.

    Namun, pengalaman penulis setelah berdiskusi dengan beberapa Pokja ULP, penyedia barang/jasa yang ikut pada LPSE yang sudah menerapkan SPSE versi 4, serta terjun langsung menjadi penyedia pada SPSE yang sudah menerapkan Versi 4, justru versi ini menyimpan beberapa permasalahan yang bisa menjadi “bom waktu” apabila tidak diperbaiki lebih lanjut.

    Read the rest of this entry »


    Procurement Channel: Optimalisasi Value for Money dalam E-Purchasing

    August 12th, 2017


    Procurement Channel: Dibalik Mega Proyek Pengadaan E-KTP

    April 26th, 2017


    Hati-Hati Membeli Tiket Garuda di Traveloka bagi Anggota GarudaMiles

    April 6th, 2017

    Pengguna GarudaMiles pasti kenal dengan namanya Award Mileage atau Tier Mileage
    Untuk mempertahankan atau meningkatkan tingkat keanggotaan GarudaMiles, membutuhkan award atau tier dengan nilai tertentu.
    Contohnya untuk menaikkan jenjang dari Blue ke Silver maka harus minimal 10 kali terbang dalam setahun.
    Namun, tidak semua penerbangan dapat dihitung sebagai syarat untuk menaikkan atau mempertahankan keanggotaan, contohnya kelas penerbangan E, U, R, X, O, Z, L tidak akan dihitung oleh Garuda. (Sumber: https://garudamiles.com/TopHome-id-ID/perolehan-miles/kalkulator-mileage/ )

    Sayangnya, apabila anda terbang dengan memesan tiket melalui Traveloka, kelas-kelas ini tidak diinformasikan sejak awal. Baru terlihat setelah E-Tiket diterbitkan dan biasanya tidak diindahkan sehingga baru sadar setelah terbang dan pada laporan Mileage tidak masuk sebagai penghitung kewajiban mempertahankan keanggotaan.

    Saya mengalami sendiri dengan 4 kali penerbangan di tahun 2017 yang tidak dihitung oleh Garuda Indonesia.

    Setelah malam ini saya konfirmasi ke Traveloka melalui fasilitas chat, maka mereka mengakui hal tersebut.

    Kesimpulannya, hati-hati memesan tiket Garuda Indonesia di Traveloka apabila anda adalah pemegang GarudaMiles yang ingin mempertahankan tingkat keanggotan atau hendak menaikkan level keangotaan GarudaMiles anda.


    Share-yah…

    December 26th, 2016

    Alkisah disuatu daerah  di negeri antah berantah, yang sudah mengikrarkan diri mereka menggunakan hukum sariah sebagai daerah satu-satunya di negeri tersebut, terjadi proses pengadaan barang/jasa pada salah satu SKPD-nya.

    Proses perencanaan pengadaan di SKPD tersebut sudah sesuai dengan ketentuan. Persiapan juga dilaksanakan penuh kepatuhan dengan aturan.

    Suatu waktu, pelaku usaha diajak bertemu dengan Kepala SKPD di daerah tersebut dan pada saat bertemu ucapan yang paling mengena di hari mereka adalah “Tender di tempat saya ini berbasis sariah…jadi jangan takut untuk ikut tender disini…”

    Wah…berbekal informasi tersebut, maka para pelaku usaha dengan semangat 45 ikut serta dalam tender yang dilaksanakan disana.

    Mulai pemasukan penawaran, pengumuman, dan pelaksanaan kontrak mereka ikut secara semangat.

    Hingga pada tahap pembayaran, mereka dipanggil oleh Kepala Dinas di daerah tersebut ke ruangannya.

    “Ini pasti acara syukuran nih, karena orangnya religius banget, apalagi ini katanya berbasis sariah…”

    Kalimat tersebut adalah kalimat yang ada dalam pikiran pelaku usaha yang dipanggil dan dengan semangat menghadiri undangan tersebut.

    “Nah, karena anda sudah hadir disini dan sesuai dengan ucapan saya sebelum tender ini dimulai bahwa tender ditempat saya ini berbasis sariah, maka ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan…”

    Seluruh hadiri menunggu kalimat-kalimat selanjutnya dan membayangkan naehat-nasehat yang indah akan keluar sebagai ungkapan rasa syukur dari Kepala Dinas tersebut.

    “Anda harus paham bahwa sariah itu berbasis kepada Bagi Hasil…sehubungan dengan hal tersebut, tolong sampaikan berapa keuntungan masing-masing penyedia disini dari hasil tender di tempat saya, dan tolong bagi minimal 4% dari nilai proyek sebagai bagian saya…

    Melongolah seluruh pelaku usaha yang hadir mendengar kalimat tersebut…

    Namun, salah seorang yang hadir rupanya paham, bahwa mungkin saja pemahaman Pak Kadis tersebut adalah sariah = SHARE (“bagi”)…yahhhhhh

    Mereka akhirnya pulang sambil geleng-geleng kepala dengan pemahaman bahwa “rupanya sama saja dengan yang lain” dan menemukan istilah baru…yaitu “Share…yah”

    Selamat berlibur di akhir tahun 2016

    …om…share…om


    Manusia dan Frekuensi Harmonik

    November 5th, 2016

    Pagi ini, saat membaca berita-berita yang berseliweran di Facebook maupun berita luring (online), saya tertarik dengan sebuah himbauan di linimasa yang menyatakan agar jangan menyebarkan berita atau informasi yang “memanaskan” suasana, namun sebaiknya menyebarkan informasi “damai” dan menyejukkan.

    Saya langsung teringat salah satu mata pelajaran sewaktu masih STM di Makassar, yaitu Mata Pelajaran Gelombang Radio khususnya pada materi Frekuensi dan Frekuensi Harmonik.

    Waktu itu, kita semua melakukan uji coba menggunakan garpu tala dan membunyikan garpu tala tersebut disebelah garpu tala yang lain. Maka hanya dengan membunyikan satu garpu tala, maka garpu tala kedua dan seterusnya akan berbunyi juga tanpa perlu ada sentuhan apapun yang diakibatkan oleh suara yang keluar dari garpu tala yang pertama. Ini membuktikan bahwa gelombang atau frekuensi tersebut dapat merambat melalui media.

    Saya jadi teringat saat mengikuti beberapa pelatihan yang berkaitan dengan manajemen kelas, salah satu kutipan yang terus saya ingat adalah “senangi materi yang anda ajarkan, maka anda akan membagi kesenangan tersebut kepada peserta diklat anda.”
    Bagaimana mungkin kita meminta peserta diklat memahami dan menyenangi apa yang kita sampaikan apabila kita sendiri menyampaikannya tidak dengan sepenuh hati?
    Bagaimana mungkin kita meminta mereka paham dan meresapi makna setiap kalimat yang kita sampaikan, apabila kita sendiri tidak memahami apa yang kita sampaikan dan sekedar untuk menjalankan tugas saja?

    Inilah yang disebut “frekuensi atau gelombang hati” menurut saya.

    Setiap manusia adalah sumber gelombang yang memancarkan berbagai jenis gelombang pada frekuensi yang berbeda-beda ke segala arah. Gelombang ini merambat melalui berbagai media dan turut menimbulkan frekuensi harmonik pada penerimanya. Gelombang amarah akan menimbulkan kemarahan lain, rasa tidak nyaman, kebencian dan kerusakan. Sedangkan gelombang kedamaian akan menimbulkan kedamaian lain, rasa tenang, kebahagiaan, dan kedamaian.

    Inilah yang menurut saya, mengapa seseorang apabila marah secara lisan, akan cenderung berteriak, karena frekuensi amarah itu membutuhkan energi yang besar serta gelombang kehancuran. Namun, seseorang yang mencintai satu sama lain, maka kadang tidak bersuara-pun, hanya dari tatapan mata nan syahdu, sudah dapat mengirimkan gelombang kedamaian dan kebahagiaan.

    Frekuensi harmonik ini juga dapat tergambar dan tersampaikan melalui media sosial, seperti Facebook, Twitter, dan lain-lain. Sehingga apabila kita hendak menyampaikan kebenaran, maka sampaikan dengan frekuensi yang sesuai, agar maksud dan tujuan kita terpenuhi. Kecuali apabila memang niat kita bukan untuk menyampaikan kebenarannya, tetapi sarana “aktualisasi diri” dan “riya” bahwa “kita yang paling benar,” “saya sudah ikut kelompok yang benar lho…,” dan bukan kebenaran itu sendiri.

    Sampaikanlah kedamaian sesuai dengan frekuensinya, sehingga tercipta harmonisasi kedamaian di muka bumi ini.


    Video Sosialisasi Draft Pengganti Perpres Nomor 54 Tahun 2010

    October 30th, 2016

     

    Untuk memperoleh Bahan Tayang Sosialisasi tersebut, silakan klik pada tautan http://www.slideshare.net/khalidmustafa1/paparan-perubahan-perpres-nomor-54-tahun-2010


    Temu Nasional Pengelola Pengadaan 2016

    October 23rd, 2016

    Temu Nasional PJ 2016